Wednesday, 14 March 2007

Pagi yang Menakjubkan di Serpihan Ibukota

Jam lima pagi,

Jalan mulai dipenuhi sepeda yang berlari

Tukang sayur, tukang tahu, dan tukang roti

Melaju, menyerbu, mengawali hari

Jam enam pagi,

Tukang singkong goreng menyiapkan dagangannya

Tukang warteg bersiap membuka warungnya

Pedagang di pasar menunggu penglarisnya

Tepat sebelum matahari beranjak dari peraduannya

Jam tujuh pagi,

Sinar sang surya menerobos gedung-gedung tinggi

Menembus kabut tipis kecokelatan, warna polusi

Knalpot kendaraan, jeritan klakson, lengkingan peluit Pak polisi

Jam delapan pagi,

Ibu-ibu keluar rumah membawa uang belanja

Yang kerja lekas bergegas meninggalkan sisa sarapannya

Para pembantu mencuci pakaian majikannya

Jam sembilan pagi,

Suara penyiar RRI terdengar nyaring di radio tetangga

"Varia nusantara!" diiringi musik mars membahana....

Membangunkan si malas yang masih pulas dengan mimpinya

Mimpi tentang enaknya jadi orang kaya

Sungguh, pagi yang menakjubkan di serpihan ibukota!

Juli 1997

(021)

Dari laut lepas di sebelah Utara pulau Jawa

Sayup terlihat terminal penumpang nusantara

Tulisan PORT OF TANJUNG PRIOK di Utara teluk Jakarta

Sementara Jakarta makin tersamar oleh kabut jelaga

Jakarta berada di salah satu sisi garis cakrawala

Tatkala hati gamang antara kerinduan dan kemuakan

Wajah ibu dan tai lalat Megawati

Senyum ayah dan kopiah Habibie

Kawan lama dan proses perhitungan suara

Kini, Jakarta terasa makin jumawa

Gedung angkuh menonjok angkasa

Apartemen, mal, plasa, dan jalan tol dalam kota

Menara kaca menyilaukan mata

Asap knalpot dan debu jalan mengedarkan timbal dan influenza

Jakarta berubah sekarang, makin arogan…

Barikade jalan, kawat berduri, tameng PPRM dan PHH

Peluru hampa, peluru karet, peluru tajam, gas airmata

Berserakan di jalan-jalan protokol ibukota

Di mana-mana laras senapan dan panser lapis baja

Mengarah dengan galak ke wajah rakyat dan mahasiswa

Jakarta makin sengak

Lagaknya seperti orang kaya yang tak kehabisan gaya

Banyak tingkah di depan kaum papa

Seolah mengejek, menertawakan kemelaratan

Jakarta sudah lupa

Jauh sebelum Pangeran Jayakarta merebut Sunda Kelapa

Sebelum berganti nama dari Batavia

Tak ada yang pernah mendengar satu kota bernama Jakarta.

Agustus 1999

m i g r a n

Seekor burung kolibri terdampar di pasir landai

Kehabisan tenaga begitu tiba di tepi pantai

Setelah berhari-hari terbang menerjang badai

Akhirnya dia kembali pulang

Serombongan burung layang-layang ekor garpu

Melayang-layang dengan riang

Membumbung, menukik di udara

Setelah tiga tahun terbang mengembara

Mereka pun pulang membangun sarang

Sepasang burung bangau baru saja tiba

Mereka selalu kembali ke tempat kelahirannya

Setiap tahun pada hari yang sama

Mereka terus terbang ke satu tujuan

Seperti uap awan yang menjelma menjadi hujan

Lalu mengalir dan kembali kepada birunya lautan

Manado, 27 Oktober 1998

Triesna

Seberkas cinta

menyinari bumi mengawali hari

Setetes cinta

jatuh ke tanah lalu mengalir menuju samudra

Sepetak cinta

yang digarap petani sepenuh hati

Sejumput cinta

yang diperoleh dari butir-butir padi

Seekor cinta

terbang riang di angkasa

Sejengkal cinta

menjadi tak terhingga

Seonggok cinta

tergeletak di bawah tangga

Seorang cinta

menyia-nyiakan lalu melupakannya

Selembar cinta

dirobek dari buku sejarah bangsa

Secarik cinta

dikirim kepada Yang Maha Kuasa

Sebaris cinta

dibacakan dan dipanjatkan berulang kali

Selaksa cinta

tersirat dalam tatapan mata

Sebait cinta

ditulis dengan tinta dan air mata

Sebutir cinta

tiga kali sehari sesudah makan

Sebotol cinta

memuaskan dahaga

Selinting cinta

mengepulkan asap

menurunkan kelopak mata

Manado, Desember 1998

Mendekati Akhir Millenium

"Sejarah merayap tanpa suara"

Sejam yang lalu,

Sehari yang lalu'

Minggu lalu,

Bulan lalu,

Tahun lalu,

Seolah berbalik arah

Menjadi sejarah

Sisa ingatan

Menjadi kenangan

Dan kita terus berjalan

Entah, hingga kapan

Lalu,

Untuk apa merasa kehilangan?

Manado, 31 Desember 1998

Sama Saja

Ya, tersenyumlah

dan dunia akan bersukaria bersama

mentari 'kan tertawa ceria menerangi dunia

bumi 'kan berputar dengan riangnya

langit 'kan cerah saat kau menatap angkasa

Jagad raya akan bersorak gembira

perjalanan akan lebih bermakna

Begitu yang ku dengar dari bunga-bunga,

burung madu, kupu-kupu, dan embun pagi

Lalu aku pun tersenyum

Dengan tulusnya

Dengan keikhlasan tak terhingga

Dan kehidupan pun terus berjalan

Tak ada perubahan

Bumi terus berputar

Matahari tetap bersinar

Seperti biasa

Seperti seharusnya

Tak ada bedanya

Walau aku tersenyum atau tertawa

Manado, November 1998

Berita Kapal

Panggilan,

Ditujukan kepada Paijan

Penumpang asal Surabaya tujuan Belawan

ditunggu saudaranya di ruang informasi

Beliau benar-benar membutuhkan informasi

Karena berita-berita di berbagai media massa

yang dia baca setiap hari semakin tidak pasti

Pengumuman,

Ditujukan kepada para penumpang kelas I, kelas II,

dan kelas III wisata

Hidangan lezat telah tersedia di ruang makan

Bagi penumpang yang ingin bersantap

dapat segera beranjak ke restoran

Kami menyediakan banyak makanan

Bahkan cukup untuk persediaan selama pelayaran berbulan-bulan

Berjaga-jaga kalau sampai terjadi peperangan

karena perpecahan atau perebutan kekuasaan

Pemberitahuan,

Ditujukan kepada para penumpang kelas I, kelas II,

dan kelas III wisata

Bagi yang ingin bersantai sejenak menghilangkan rasa sumpek

dapat menikmati hiburan di restoran kelas satu

Berdansa ria sambil menikmati lagu

Melupakan nyanyian kehidupan yang makin sendu

Krisis moneter yang membuat kita makin keteter

Harga dan dosa yang membumbung tinggi

Laju inflasi dan fluktuasi

Memaksa kita terus berlari

Peringatan,

Ditujukan kepada penumpang-penumpang kelas ekonomi

Itu ompreng-ompreng makanan harap dikembalikan ke pantri

Kasur-kasur jangan dibawa lari

Pelampung-pelampung jangan dicuri

Air panas hanya disediakan setiap pagi

Setelah itu harus cari sendiri

Tertanda, Mualim II

Manado, Maret 1998